SINGAPORE, 1- 5 DECEMBER 2008
Oleh : Putranegara Riauwindu SMAN 5 Bekasi
Pra Keberangkatan, 28 Oktober – 30 November 2008
Hari itu yakni tanggal 28 Oktober saya menerima surat dari Dikdasmen yang memberitahukan bahwa saya lolos untuk mengikuti ajang Indonesia – Singapore Student Leaders` Adventure Camp ( ISSLAC ) yang kedua yang akan diadakan di Singapore tepatnya di Dairy Farm Road. Saya ikuti semua syarat yang diberitahukan untuk mengikuti event ini, beberapa hari setelah saya kirim semua persyaratan termasuk passport, saya menerima surat pemberitahuan dari Dikdasmen yang isinya pemberitahuan waktu orientasi dan keberangkatan yakni masing – masing tanggal 30 November yang bertempat di Wisma Handayani Cipete Jakarta Selatan dan 1 Desember 2008 dari Bandara Soekarno – Hatta. Tibalah waktunya untuk mengikuti orientasi mengenai kegiatan yang akan kami lalui. Orientasi bertempat di Wisma Handayani. Saya bertemu banyak peserta lainnya dari berbagai sekolah di Indonesia setelah saya sampai di Wisma. Disana juga saya bertemu teman – teman lama yang lolos seleksi Sunburst Youth Camp yang diadakan tanggal 25 – 28 Mei 2008 di tempat yang sama, jadinya ada semacam reunian bersama teman – teman yang juga lolos seleksi Sunburst Youth Camp seperti saya. Disana juga saya bertemu Bapak Marudut Marpaung, ketua panitia pelaksana kegiatan ini, yang membagikan name tag peserta dan tas travel kepada peserta.
Tibalah waktu orientasi yang bertempat di gedung C Wisma Handayani. Acara pertama dalam kegiatan orientasi ini adalah sambutan dari Kepala Biro Perencanaan dan Kerja Sama Luar Negeri Bapak Dr.R. Agus Santoso, MBA, lalu dilanjutkan oleh paparan di bidang manajemen pendidikan dasar dan menengah oleh Bapak Dr. Bambang Indriyanto, MSc, selaku Sekretaris Direktorat Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, setelah itu dilanjutkan dengan Dinamika Hubungan Indonesia – Singapore di Bidang Pendidikan oleh Direktur Asia Timur dan Pasifik Departemen Luar Negeri Drs. Kristiarto Legowo. Melelahkan memang tetapi semua itu perlu sebagai bekal untuk menghadapi event yang akan kami lalui. Setelah selesai pemaparan dari Bapak Kristiarto Legowo, para peserta diberikan waktu untuk ISHOMA sampai jam 1 siang. 1 jam telah berlalu, saatnya untuk mengikuti orientasi kembali yakni mengenai pengembangan kepribadian siswa oleh Prof. Dr. Nurachman Hadjam dari Universitas Gadjah Mada yang merupakan rektor Psikologi UGM. Mungkin materi inilah yang paling saya suka sebab melalui materi yang diberikan oleh Prof. Nurachman saya bisa mengenali kelemahan saya yang harus dihilangkan dan kelebihan saya yang bisa ditunjukkan kepada orang – orang Singapura untuk memberikan impresi yang baik kepada mereka tentang Indonesia. Tibalah waktunya untuk pembekalan teknis mengenai keberangkatan, apa saja yang harus kita lakukan ketika keberangkatan dan setelah tiba di Singapura yang diberikan oleh para panitia. Semua materi yang diberikan sangatlah bagus untuk menunjang kegiatan kami disana, tapi alangkah baiknya bila untuk tahun depan, para panitia bisa membagikan handout materi yang disampaikan oleh para narasumber agar para peserta dapat memahami materi dengan lebih baik.
5 jam telah berlalu seiring selesainya orientasi kepada para peserta kegiatan Indonesia – Singapore Student Leader`s Adventure Camp. Tibalah waktunya untuk istirahat dan tidur untuk mempersiapkan diri untuk keberangkatan ke Singapura besok pagi.
Keberangkatan dan Kedatangan di Camp, 1 Desember 2008
Keesokan harinya saya bersiap berangkat ke bandara jam 6.30 karena saya mendapat group pertama. Sampailah kami di bandara Soekarno – Hatta. Rencananya kami akan berangkat dengan menggunakan pesawat Garuda GA 824 yang take off jam 9.50 WIB. Beberapa jam berlalu tibalah saatnya kami untuk take off menuju Changi Airport. Penerbangan menuju Changi Airport diperkirakan memakan waktu kurang lebih 105 menit. Menit demi menit berlalu, tibalah kami di Changi International Airport. Impresi pertama saat menginjakkan kaki di Changi Airport yaitu airportnya sangat bagus, tertata rapi, bersih, terawat. Saat tiba, kami dijemput oleh trainer dari Innotrek dan dari departemen pendidikan Singapura, mereka menyediakan bis untuk kami semua. Di perjalanan, kami melihat kota Singapura yang sangat rapi, bersih, hijau, terdapat trotoar yang lebar bagi pejalan kaki, transportasi yang baik, serta masyarakat yang disiplin. Mungkin itulah yang harus kita benahi sebagai warga Indonesia, khususnya para generasi muda yang merupakan calon pemimpin di masa depan. Akhirnya tibalah kami di Camp kami di Dairy Farm Road. Pada awalnya, saya agak canggung dengan dialek Singlishnya ( Singapore English ) orang Singapura, tetapi lama – kelamaan saya mulai beradaptasi sehingga akhirnya saya bisa berbincang – bincang dengan Trainer dari Innotrek yang menjemput kami di bandara dan orang dari Departemen Pendidikan Singapura dengan lancar.
Setibanya kami di Camp, kami dikumpulkan di suatu ruangan yang ternyata merupakan sebuah kantin atau dining hall, disana kami diperkenalkan dengan Camp Chief yang bertanggung jawab terhadap kegiatan ini yaitu Chief Ismael. Disana juga kami diberikan arahan – arahan mengenai acara ini dan juga pengumpulan benda – benda berharga seperti Handphone dan dompet untuk menghindari hal – hal yang tidak diinginkan sembari menunggu rombongan kedua tiba.
Setelah rombongan kedua tiba di Dairy Farm Road, kami dibagi menjadi sembilan kelompok yang terdiri dari siswa siswi dari Indonesia dan Singapore yang seharusnya terdiri dari 9 orang siswa Singapura dan 9 orang siswa Indonesia, namun di dalam kelompok saya hanya ada 17 orang. Menit demi menit berlalu, tibalah saatnya untuk acara pembukaan Camp dengan menaikkan bendera kedua negara yakni Indonesia dan Singapura dan dilanjutkan oleh sambutan dari Ketua Camp dari Singapura dan sambutan dari Diknas Indonesia.
Acara pembukaan pun berlalu, kini saatnya kami untuk menikmati hidangan makan malam yang disediakan oleh panitia, ternyata makanannya adalah makanan Malaysia, jadinya lidah kami agak terbiasa dengan makanan tersebut. Pada saat itu saya agak lucu melihat trainer memberi aba – aba untuk menepuk meja keras – keras, yang paling keras dapat makanan duluan. Itulah salah satu hal yang saya kagumi dari masyarakat Singapura yakni berani untuk menunjukkan siapa dirinya alias percaya diri. Selesai makan, kami diharuskan untuk mencuci piring kami sendiri dengan melewati rute yang sudah ditetapkan panitia. Objektif dari peraturan ini adalah untuk menumbuhkan rasa disiplin pada peserta Camp.
Penuh sudah rasanya perut ini, acara makan malam pun selesai, kami di perintah untuk keluar kantin mencari tempat dengan kelompok kami dan tentunya dengan trainer kami yakni Syaiful. Syaiful menyuruh kami untuk menggambar poster kelompok kami disertai gambar telapak tangan dengan objektif yang ingin diraih dari Camp ini didalamnya.
Pada hari pertama ini terlihat anak – anak Singapore lebih mendominasi dalam kegiatan di hari pertama ini, mungkin karena kami belum begitu mengenal satu sama lain dan faktor kelelahan.
Selesai acara Poster Drawing, kami diajak trainer kami, Syaiful, melakukan Nature Walk ke Dairy Farm Quarry tepat 50 meter disamping camp kami tapi sebelumnya Syaiful meminta kami untuk membawa sesuatu yang merepresentasikan diri kami. Syaiful menginstruksikan kami untuk tidak menyalakan lampu senter yang kami bawa dengan alasan agar mata kita bisa beradaptasi dengan kegelapan malam. Kira – kira 10 menit berjalan menyusuri kegelapan malam, tibalah kami di ujung Dairy Farm Quary, tempatnya indah di waktu malam. Syaiful mengatakan bahwa dulu tempat ini merupakan bukit yang penuh timah, karena penuh dengan timah bukit ini digali dan di dinamit untuk mendapatkan timah sehingga menyisakan tempat/lapangan terbuka di tengah bukit. Disini Syaiful juga meminta kami untuk menjelaskan arti dari barang yang kami bawa untuk merepresentasikan diri kami. Lagi – lagi siswa Singapore yang secara sukarela menawarkan diri untuk maju pertama, namanya Weili, ia membawa pena yang mencerminkan bahwa ia bisa cocok dengan segala situasi. Selanjutnya saya sukarela menawarkan diri untuk maju kedua, saya membawa notebook atau lebih spesifiknya kertas yang berarti bisa cocok dengan segala situasi, mudah menyerap informasi, mudah dibentuk untuk menyesuaikan diri, dan yang lebih penting lagi sangat diperlukan oleh orang lain karena kertas sangat diperlukan oleh orang banyak. Selanjutnya teman dari singapore maju lagi, dan singapore lagi sesudahnya, baru ada siswa Indonesia yang berani maju lagi yakni Arisenno dan Brian. Total siswa Indonesia yang berani maju dalam kelompok 1 pada kegiatan Nature Walk ini adalah 3 orang yakni saya, Ariseno dan Brian.
Setelah puas memandangi indahnya malam, kami sekelompok kembali ke Camp untuk menikmati supper di kantin dilanjutkan oleh istirahat malam. Acara pada hari pertama ini selesai pada pukul 11.20 kurang lebih.
Hari ke – 2
Keesokan harinya, kami harus berkumpul di kantin pada pukul 7.20 waktu Singapura untuk menikmati hidangan pagi atau breakfast. Rencananya hari ini kami akan melakukan Dragon Boating di Kallang Sport Center dan Sentosa Race di Sentosa Island. Seperti biasa, kami harus menepuk meja untuk mendapatkan makan, dan seperti biasa pula kami harus mencuci piring kami seusai makan.
Kegiatan dilanjutkan dengan acara Area Cleaning seusai makan. Pada kegiatan ini kami diharuskan membersihkan dorm kami dan merapikannya, serta membersihkan WC dengan Horsereel yang tersedia di samping dorm kami.
Akhirnya, tibalah saatnya untuk Dragon Boating, kami semua diantar oleh bis yang sudah disiapkan oleh panitia untuk menuju Kallang Sport Center. Perjalanan memakan waktu kurang lebih 30 menit. Setibanya kami disana, kami dibriefing mengenai apa yang akan kami lakukan dan sedikit pelatihan mengenai Dragon Boating yang belum cukup familiar bagi siswa Indonesia, dan tentunya dengan sedikit pemanasan untuk meregangkan otot kami. Kira – kira 15 menit briefing pun selesai, tibalah saatnya untuk having fun di Kallang River, memang cuaca pada waktu itu lumayan terik, tetapi itu tidak menyulutkan semangat kami untuk melakukan kegiatan ini. Kamipun dibagikan vest bouyoncy dan paddle untuk Dragon Boating ini. Akhirnya giliran kelompok kami untuk menaiki Dragon Boat pun tiba, dengan perlahan dan hati – hati kami semua mulai menaiki Dragon Boat. Bapak Wing Waluyo pun menyertai kelompok kami untuk mengambil gambar, Camp Chief Ismael pun turut serta menyertai kelompok kami untuk mengambil gambar pula. Kamipun mulai mendayung dengan aba – aba dari trainer kami dalam Dragon Boating in yaitu David. Perlahan tapi pasti perahu kami mulai maju, dan lama – kelamaan jalannya pun semakin cepat seiring dengan timbulnya kerjasama di dalam kelompok kami. Di tengah sungai, trainer kami dalam kegiatan ini, David, menceritakan tentang sejarah Dragon Boat ini, dan menunjukkan bagian – bagian Singapura dari Kallang River ini. Dari Kallang River ini kami bisa melihat Singapore Flyer yang merupakan Roda Observasi terbesar di Dunia, dari sini juga kami bisa melihat turis – turis yang berwisata menggunakan Ducktour, semacam kendaraan amfibi yang bisa berjalan di air maupun di darat.
Setelah puas berkeliling Kallang River, kamipun siap untuk mengikuti Dragon Boat Race yang diikuti oleh semua kelompok. Peluit tanda mulai pun dibunyikan, kami sekelompok mendayung sekuat tenaga kami dengan dikoordinasi oleh aba – aba leader kami. Satu per satu kelompok kami lewati tinggallah satu kelompok lagi yaitu kelompok Indomie, namun akhirnya tidak terkejar dan kami harus puas menjadi juara kedua.
Seusai lelah berDragon Boating ria, kami pun disuguhi hidangan santap siang di pinggir Kallang River. Trainer kami, Syaiful, menanyakan mengenai objektif dari kegiatan ini, saya menjawab bahwa dalam kegiatan ini yang menjadi objektif ialah Teamwork yang bisa dicapai dengan Komunikasi, Koordinasi, dan Kooperasi. Ternyata jawabanku benar, ada teman ku siswa Singapura yang menambahkan tentang pentingnya ketiga faktor tersebut. Satu hal dari kegiatan ini adalah mulai timbulnya ikatan emosional dan kerjasama diantara siswa khususnya di kelompok saya.
Puas dengan santapan siang kami, kami pun melanjutkan perjalanan kami ke Sentosa Island untuk melakukan Sentosa Race dengan menggunakan bis yang sudah disiapkan oleh panitia. Sebelum berangkat ke Sentosa Island, kami diberi bekal untuk makan malam berupa 2 potong Sandwich yang kami buat sendiri di Kallang Sport Center. Perjalanan ke Sentosa Island memakan waktu 45 menit dari tempat kami sekarang. 45 menit berlalu, tibalah kami di Sentosa Island yang merupakan jantung pariwisata dari Negara Singapura ini. Di sana kami di briefing di Palawan Beach mengenai kegiatan yang harus kami lakukan. Di sini kami harus menemukan 8 Checkpoint yang tersebar di seluruh penjuru Sentosa Island, kami juga dibekali dengan checkpoint list dan peta Sentosa Island. Setelah mendapatkan peta dan checkpoint list, kami sekelompok mulai mencari checkpoint – checkpoint yang dimaksud di dalam peta Sentosa Island, dalam kegiatan ini Dewi, siswi dari Riverside School Singapore dipilih menjadi Leader kelompok kami oleh semua anggota kelompok. Dari kegiatan ini bisa dilihat siswa – siswi Singapore tidak malu – malu untuk dipilih menjadi ketua dan berani menjadi Decision maker. Hal inilah yang patut dicontoh oleh segenap siswa – siswi Indonesia yang kerap kali malu – malu bila dipilih untuk menjadi Decision Maker.
Race pun dimulai, checkpoint pertama yang akan kami tuju adalah mencari papan dengan tulisan “Southernmost Area in Asia Continental”,. Setelah menemukan papan itu, kami diharuskan menulis nama kelompok kami di pantai di seberang menara yang ada tulisan itu. Kami pun mulai menulis nama kelompok kami yaitu “Ninjas” di pasir pantai. Tapi sepertinya tulisan kami kurang terlihat, kami pun memutuskan untuk menambahkan rumput laut yang kebetulan tersedia di pantai untuk membuat tulisan kami lebih hitam dan lebih jelas. Setelah selesai kami pun mengambil foto group dengan latar belakang nama kelompok kami itu. Selesai dengan Checkpoint pertama, leader kami memutuskan untuk pergi menuju Checkpoint kedua yaitu ke Siloso Beach dengan objektif membuat istana pasir di depan tulisan SILOSO dan mengambil gambar di depannya. Dalam perjalanan ke Siloso Beach, cuaca berubah menjadi mendung dan terlihat kilat sedang menyambar angkasa, trainer dan observer kami memutuskan agar kami mencari tempat berlindung dari petir, safety procedure untuk cuaca seperti ini kata mereka, jadi terpaksa kami berteduh dan berunding untuk mencari checkpoint lain.
Setelah berunding ternyata cuaca menjadi lebih tidak bersahabat dan turunlah hujan lebat. Kami pun menjadi panik dan stress karena masih banyak checkpoint yang belum kami lewati. Di tengah kepanikan, observer kami memberitahukan hal yang tidak leader kami perhatikan. Hal itu tertulis di dalam checkpoint list yang isinya memberitahukan hal apa yang harus kami lakukan bilamana cuaca menjadi buruk. Kami semua tertawa setelah membaca hal itu dan memutuskan untuk melakukan aktifitas yang tercantum di dalam Checkpoint list yaitu Human Entangled. Hal ini cukup sulit bagi siswa Indonesia karena baru pertama kali melakukan hal ini, akhirnya dipilihlah satu siswa singapore untuk menjadi leader dalam kegiatan Human Entangled ini yaitu Wendy. Satu hal yang saya amati dari kegiatan ini adalah siswa – siswi Indonesia dan Singapore sama – sama tidak memperhatikan petunjuk secara keseluruhan alias terburu – buru.
Cuaca semakin memburuk dan kami pun memutuskan untuk tidak melanjutkan penjelajahan kami di Sentosa Island, sebagai gantinya, kami bermain di bawah tenda yang berada di pinggir pantai untuk mengisi waktu hingga hujan mereda. Disini kami melakukan permainan bersama – sama, disini juga saya mengajarkan permainan siswa – siswi Indonesia yang sering dimainkan oleh siswa – siswi Indonesia namanya permainan konsentrasi, dan berbagai macam permainan lainnya yang tentunya permainan Singapore dan Indonesia. Dibawah tenda ini pula kami sekelompok menikmati dinner kami yaitu 2 potong Sandwich + 1 buah pisang.
Tak terasa waktu menunjukkan pukul 7.45, kami pun segera bergegas untuk kembali ke Camp kami di Dairy Farm Road. Dalam perjalanan pulang, salah satu teman kelompok kami dari Indonesia, Bintang namanya, terpeleset di dekat halte Bis. Kejadian itu membuat tangannya terkilir sehingga ia tidak bisa mengikuti kegiatan di hari – hari selanjutnya secara maksimal. Teman atau buddy Singapuranya Bintang, Weili dengan senang hati menolong membawakan tasnya Bintang dan membantunya berjalan. Ternyata jiwa kemanusiaan dan kesetiakawanan siswa Singapura cukup tinggi.
Tak terasa, sampailah kami di Camp kami yang tercinta. Kami dikumpulkan kembali di kantin untuk menikmati minuman hangat yaitu milo hangat setelah berjalan lama. Tak lupa juga trainer kami memberitahukan kegiatan apa yang akan kami lakukan keesokan harinya dan barang – barang apa saja yang perlu kami bawa. Pada hari ini waktu untuk tidur ditetapkan pukul 11.00.
Hari Ke – 3
Keesokan harinya seperti biasa, hari dimulai dengan sarapan pagi di kantin, hari ini juga kami siswa Indonesia mendapatkan suatu permainan baru yang bernama Cup Games atau yang lebih dikenal dengan nama Michigan Box dimana kami memainkan sebuah cup satu orang satu dan dimainkan secara bersama – sama sehingga membentuk sebuah irama yang melodis. Setelah sarapan pagi acara kami dilanjutkan dengan Area Cleaning, tapi Area Cleaning kali ini kita tidak hanya membersihkan dorm kita, tetapi juga membersihkan dorm tetangga. Selesai Area Cleaning, kami berkumpul di depan Kantin untuk menunggu bis dan instruksi lebih lanjut dari Camp Chief. Seperti yang sudah direncanakan sebelumnya, hari ini tepatnya hari ketiga yaitu tanggal 3 Desember 2008 kami akan mengadakan Heritage Trail, yaitu kegiatan mengunjungi situs – situs atau tempat – tempat budaya di Singapura yang diantaranya Chinatown, Little India, Kampung Glam, Fort Canning, Fountain of Wealth di Suntec City, dan Esplanade. Bis pun tiba, kami semua masuk ke dalam bis satu persatu.
Tujuan pertama kami adalah Marina Barrage, yaitu tempat yang berfungsi sebagai bendungan air laut, pengontrol banjir atau pintu air, dan sebagai reservoir air tawar sebagai konsumsi untuk penduduk kota. Kegiatan pertama kami disini ialah mengadakan permainan dan juga briefing dari trainer mengenai apa yang harus kami lakukan dalam kegiatan Heritage Trail ini. Pihak panitia juga membagikan 25 dolar Singapura kepada semua peserta untuk transportasi dan makan siang serta makan malam. Pada kegiatan kali ini Saya dipercaya oleh kelompok saya untuk menjadi leader dalam kegiatan Heritage Trail ini sekaligus sebagai pemegang dan pengatur uang yang dibagikan oleh penitia. Di Marina Barrage ini juga kami mendapatkan kesempatan untuk menikmati pemandangan Singapura melalui Dragon Trail, yaitu jalan melingkar seperti naga ke atas gedung Marina Barrage.
Disini kami juga berkesempatan untuk mengunjungi Singapore Sustainable Galery yang memperlihatkan usaha – usaha pemerintah untuk menjaga sumber air tawar untuk konsumsi penduduk kota di Singapura. Penduduk Singapura sangat menjunjung tinggi penghematan air dan reservasi air, hal ini harus kita contoh di Indonesia untuk menjaga pasokan air tanah kita dengan tidak menggunakan air tanah berlebihan dan sia – sia. Setelah puas melihat – lihat isi Singapore Sustainable Galery, kami memutuskan untuk menentukan “Trail” kami, tujuan pertama kami adalah Chinatown, dilanjutkan oleh Little India, lalu Kampung Glam, setelah itu Fort Canning, Suntec City dan tujuan terakhir kami adalah Esplanade. Karena kami semua sudah kelaparan, saya memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu di Chinatown Point, kami kesana menggunakan SMRT ( Subway Mass Rapid Transportation). Sesampainya kami di stasiun SMRT terdekat, kami langsung membeli tiket dengan uang yang sudah disiapkan panitia. Di stasiun ini kami membeli tiket dengan menggunakan mesin GMT yang merupakan mesin pemroses tiket otomatis.
Selesailah sudah kegiatan membeli tiket, sekarang tibalah saatnya untuk kami untuk menunggu kereta, rencananya kami akan berhenti di Dhorby Gout dan transfer ke arah Chinatown. Disaat masuk kereta kebetulan keretanya kosong, jadinya kami sempat mengambil foto group di dalam kereta. Perjalanan menuju Chinatown memakan waktu kurang lebih 18 menit. Tak terasa 18 menit sudah berlalu, sampailah kami di Chinatown Point, tempat dimana kami merencanakan untuk makan siang. Pada awalnya kami sempat bingung, karena takut restoran yang ada di Chinatown Point tidak menyediakan makanan halal, akhirnya saya memutuskan untuk makan siang di McDonald. Untuk makan siang ini kami dijatah 5 dolar per siswa. Setelah puas mengisi perut kami yang sudah keroncongan sejak di Marina Barrage, kami pun siap melanjutkan “Trail” kami.
Seperti yang sudah kami rencanakan, tujuan pertama kami adalah Chinatown dengan objektif mencari kuil yang gambarnya ada di Checkpoint list kami, mencari food stall, dan mencari food stall yang menjuad Lotus Seed Soup serta menanyakan resep dan mencicipi Lotus Seed Soup dan tentu saja mengambil gambar kelompok sedang memakan Lotus Seed Soup. Objektif kami pun selesai, kami segera melanjutkan perjalanan ke Little India, yaitu tempat dimana orang – orang India pertama kali menetap di Singapura. Kami menuju Little India dengan menggunakan SMRT yang nyaman dan cepat. Seperti biasa kami harus membeli tiket dulu untuk memasuki SMRT. Perjalanan ke Little India ini memakan waktu 10 menit karena terletak satu arah dengan Chinatown sehingga kami tidak perlu transit terlebih dahulu.
Tak terasa 10 menit sudah berlalu dan tibalah kami di Little India. Disini kami diharuskan mencari kuil yang gambarnya ada di dalam Checkpoint List. Lelah memang setelah melakukan perjalanan yang panjang dair Marina Barraga, tapi semua itu kami lalui dengan penuh sukacita dan gembira sehingga penat yang ada tak dirasa. Setelah berkeliling dan melihat peta, tibalah kami di kuil yang merupakan objektif kami, seperti biasa kami diwajibkan mengambil foto di depan kuil. Namun ketika kami akan mengambil foto di depan kuil, kami dilarang oleh penjaga kuil, ia berkata bahwa kami melakukan hal yang tidak baik, jadi terpaksa kami tidak mengambil foto di depan kuil tersebut. Objektif kami selanjutnya adalah mencari pengrajin Flower garland, yaitu rangkaian bunga yang biasa di buat oleh orang India untuk dikenakan di leher. Cerita punya cerita kami pun akhirnya menemukan pengrajin Flower Garland, tetapi ketika kami bertanya tentang bagaimana cara membuatnya, ia tidak memberitahu kami. Tak sampai disitu saja perjuangan kami, kami tetap mencari pembuat Flower Garland lain dan akhirnya kami menemukannya, tetapi hal yang sama pun terjadi. Saya memutuskan untuk melewatkan objektif ini karena saya berpikir pasti akan sama di setiap pembuat Flower Garland mungkin itu merupakan rahasia mereka jadinya mereka tidak akan memberitahu siapapun. Kami memutuskan untuk melanjutkan Trail kami ke Kampung Glam, yaitu tempat dimana orang – orang melayu tinggal pada saat pertama kali mereka mengunjungi Singapura. Pada awalnya kami berencana untuk menaiki SMRT, tetapi trainer kami, Syaiful memberitahu kami bahwa ia mengetahui jalan menuju Kampung Glam dari Little India ini, jadi kami memutuskan untuk berjalan sekaligus menghemat uang yang diberikan oleh panitia. Di sepanjang jalan menuju ke Kampung Glam, kami semua bercanda ria dan mulai terlihat keakraban diantara kami, mulai tumbuh persahabatan diantara kami. Setelah melalui jalan yang cukup melelahkan, tibalah kami di Kampung Glam. Sebelum melanjutkan Trail kami, Syaiful menawarkan kami untuk melaksanakan shalat terlebih dahulu di Masjid Sultan, kami sekelompok menerima tawarannya dan shalatlah kami semua yang beragama Islam di Masjid Sultan. Selesai shalat, kamipun melanjutkan Objektif kami di Kampung Glam ini yaitu menanyakan bahan dasar pembuatan kubah Masjid Sultan dan mengambil foto group di depan Masjid Sultan ini. Kami pun mulai mencari informasi mengenai bahan pembuat kubah Masjid Sultan ini, saya dan teman saya bertanya kepada penunggu masjid, ia berkata bahwa dasar dari Kubah Mesjid Sultan ini terbuat dari botol kecap manis. Dengan begitu selesailah objektif yang pertama.Objektif selanjutnya ialah mengambil foto grup di depan Masjid Sultan dan itupun selesai dalam hitungan menit. Tak terasa waktu menunjukkan pukul 18.30, kamipun memutuskan untuk makan malam di Kampung Glam ini sebelum melanjutkan Trail kami, tetapi trainer kami berkata bahwa waktu kita tidak mencukupi lagi untuk mengunjungi Fort Canning, dan Suntec City, jadinya kami pun harus menuju Esplanade dan pulang bersama – sama dengan kelompok yang lain dari Esplanade. Singkat cerita kami pun memesan makanan dan makan hingga perut kami penuh, saya sendiri memesan Prata keju plus telur. Teman – teman saya yang dari Indonesia pun mengikuti saya karena mereka tidak familiar dengan makanan - makanan yang tertera di dalam daftar menu. No makan no Energy, begitu yang teman Singapura kami katakan sehingga setelah makan mereka mengatakan Makan full of energy lah!. Setelah makan kami melanjutkan Trail kami ke persinggahan terakhir yaitu Esplanade. Kami berencana untuk menggunakan SMRT dan turun di Stasiun City Hall. Namun suatu kejadian yang tak terduga terjadi, ketika kami akan menaiki SMRT, salah satu teman Singapura kami mengalami sesak napas atau Asma, akhirnya kami harus menunggu dan beristirahat untuk memulihkan kondisi teman kami terlebih dahulu. Kami sekelompok mencoba menolong sebisa kami dengan cara memberikan minum, mengipasinya, dan memijatinya. Saya lihat baik siswa Singapura maupun Indonesia mempunyai jiwa kemanusiaan dan kesetiakawanan yang tinggi. Di waktu kami merawat teman kami, tiba – tiba pak polisi datang dan menanyakan keadaan kami, pada mulanya saya agak deg- degan karena banyak sekali polisi yang datang, tetapi ternyata mereka hanya menanyakan apakah kami perlu membawa teman kami ke rumah sakit tetapi teman kami mengatakan bahwa ia tidak perlu dibawa kerumah sakit. Setelah kejadian itu kamipun melanjutkan perjalanan kami menuju Esplanade. Perjalanan menuju Esplanade memakan waktu kurang lebih 15 menit. Akhirnya sampailah kami di Esplanade, di sini kami hanya bermain sembari menunggu kelompok lain datang. Disini juga kami sempat mengabadikan foto kami sekelompok sedang meloncat didepan Esplanade. Tak terasa waktu berlalu dengan cepat, kelompok lain pun berdatangan dan kami semua kembali menuju Camp di Dairy Farm Road dengan menggunakan bis.
Saya melihat satu hal setelah kami melalui Heritage Trail hari ini, kerjasama tim dan pemahaman diantara anggota tim mulai meningkat dan bisa dibilang merupakan klimaks dari 4 hari yang kami lalui di Singapura. Ditambah lagi, teman – teman dari Singapura mengatakan setelah melalui kegiatan ini mereka jadi bisa lebih mengetahui bagaimana kami sebenarnya.
HARI KE – 4
Keesokan harinya, acara rutin kami seperti biasa sarapan pagi di kantin terlebih dahulu, lalu dilanjutkan dengan Area Cleaning dengan membersihkan dorm 1A dan B serta Toilet dan area sekitarnya. Hari ini rencananya kegiatan kami adalah Guided Nature Walk ke Mt.Faber dan Shopping di Mustafa Center di Little India. Tidak seperti hari sebelumnya, kali ini kami tidak menaiki SMRT melainkan menaiki bis yang sudah disiapkan oleh panitia. Tujuan pertama kami adalah Mt.Fabre dan perjalanan menuju Mt.Fabre memakan waktu kurang lebih 25 menit. Tak terasa 25 menit berlalu Mt.Faber sudah didepan mata. Disana kami bertemu dengan Zhang yang akan menjadi pemandu kami selama Nature Walk di Mt.Faber ini. Zhang sendiri merupakan orang Singapura keturunan Tionghoa. Mf.Faber sendiri bukanlah sebuah gunung seperti yang tergambar di namanya “Mount/Mt” melainkan sebuah bukit yang paling tinggi di Singapura. Disepanjang perjalanan menuju ke puncak Mt.Faber, Zhang menceritakan sejarah Mt.Faber. Ia mengatakan bahwa Mt.Faber ini merupakan Secondary Forest atau hutan artifisial yang ditanami oleh manusia sebagai tempat rekreasi, cagar alam, serta paru – paru kota. Dahulu Mt.Faber ini adalah sebuah hutan yang ditebang untuk mendapatkan kayunya untuk membangun Singapura. Nama Faber sendiri diambil dari nama Arsitektur yang merancang tata hutan ini dan taman yang terletak di puncak bukit ini. Selain itu, Zhang juga memperkenalkan tanaman – tanaman yang terdapat di Mt.Faber ini yang tentu saja sudah tidak asing lagi bagi siswa – siswa Indonesia seperti pohon saga, petai, karet, kuping gajah, dan sirih. Tak terasa setelah berjalan jauh dan juga melelahkan mendaki Mt.Faber, tibalah kami di puncak Mt.Faber. Di puncak Mt.Faber, kami dapat melihat Pulau Batam Provinsi Kepulauan Riau dan kota Singapura dengan menggunakan Teropong. Tak lupa kami seperti biasa mengambil foto grup sebagai kenang – kenangan. Di sini Trainer kami Syaiful memberitahukan bahwa nanti malam adalah acara CampFire dimana setiap kelompok diwajibkan menampilkan pertunjukan. Kamipun berdiskusi untuk menentukan pertunjukan apa yang akan kami tampilkan nanti malam. Saya mengusulkan agar kelompok menampilkan tarian Indonesia yang dimodif dan dicampur dengan sedikit drama serta menari Dangdut di akhir acara dan tentu saja dengan lagu yang disenangi oleh grup kami. Ternyata pendapat saya disetujui oleh anggota grup kami. Zarchi menambahkan agar di akhir pertunjukan, kami juga menyanyikan lagu In The Early Morning Walk dan Graduation Song dan kami semua pun menyetujuinya. Tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 12 siang, saatnya kami menikmati santap siang kami, tentu saja dengan menuruni Mt.Faber terlebih dahulu karena makanan yang disediakan panitia berada di bawah. Lelah juga menuruni Mt.Faber ini tetapi apa boleh buat, makanannya ada di bawah sehingga mau tidak mau kami harus menuruni bukit ini. Setelah beberapa menit berjalan, sampailah kami di dasar Mt.Faber untuk menikmati santap siang kami. Rencananya setelah santap siang ini kami akan melanjutkan perjalanan kami ke Mustafa Center untuk berbelanja membeli suvenir yang sudah ditunggu – tunggu oleh siswa Indonesia. Santap siang pun selesai, kami melanjutkan perjalanan kami ke Mustafa Center yang terletak di Little India dengan menggunakan SMRT. Perjalanan menuju Mustafa Center yang terletak di Little India memakan waktu kurang lebih 15 menit. 15 menit telah berlalu, kami pun akhirnya sampai di Mustafa Center untuk berbelanja suvenir. Trainer kami Syaiful mengatakan bahwa kami memiliki waktu hingga jam 2 siang dan kami harus berkumpul di depan Mustafa Center lagi. Singkat cerita, kami semua masuk ke dalam Mustafa Center dan berbelanja. Saya sendiri tidak ingin menghabiskan terlalu banyak uang berbelanja jadinya belanjaan saya hanya sekedarnya saja. Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 1.50, saatnya kami untuk kembali berkumpul di depan Mustafa Center. Setelah semua berkumpul di Mustafa Center, kami semua kembali pulang ke Camp kami di Dairy Farm Road dengan menggunakan bis. Di dalam bis seperti biasa kami melakukan kegiatan – kegiatan anak – anak yang tentu saja membuat kegemuruhan di dalam bis, pada saat di dalam bis juga, trainer kami, Syaiful tertidur pulas. Moment ini tidak kami sia – siakan begitu saja, kami mengambil foto dengan Syaiful yang sedang tertidur dengan berbagai pose. Rasanya hari ini merupakan hari yang tidak terlupakan. 20 menit berlalu, kamipun sampai di Camp kami dan kami langsung menuju dorm kami untuk meletakkan belanjaan kami. Kami sekelompok juga mengadakan latihan untuk pertunjukan pada malam Campfire nanti. Seperti yang sudah direncanakan kami memulai latihan kami dengan mempertunjukkan yel – yel kelompok kami dilanjutkan dengan tarian “Kecak” versi kelompok kami dan “Jaipong” yang dikombinasikan. Untuk mengiringi tarian, kami sekelompok membuat suara “ea e um”. Pada awalnya kami menyanyikan “ea e um” dengan tempo yang lambat, makin lama makin cepat dan klimaksnya pada saat tempo paling cepat, teman kami yang menari di tengah lingkaran yang kami buat melakukan tarian “ngebor” dan “gergaji” yang merupakan tarian dangdut dan tanpa jelas dari mana datangnya, teman kami yang menari di tengah tiba – tiba jatuh dan pingsan, lalu ada seorang dukun yang menghidupkannya kembali dan ceritanya terjadilah sebuah acara tinju/gulat dengan ala matrix. Lucu memang, tapi itulah yang kami rencanakan membuat pertunjukan yang lucu agar malam Campfire nanti tidak terlalu sepi. Selanjutnya kami melanjutkan pertunjukan kami dengan menyanyikan lagu In The Early Morning Walk yang dikomandoi oleh Zarchi, kami semua menyanyi dengan riang gembira. Pertunjukan terakhir kami adalah menyanyikan lagu Graduation Song – Friends Forever dengan meletakkan tangan di pundak teman sebelahnya sehingga terbentuk sebuah rantai. Saya berinisiatif unuk menjadi beaternya/pengatur tempo ditemani oleh teman saya yang lain. Di malam harinya, seperti biasa kami mulai kegiatan dengan acara makan malam dan sesuai dengan jadwal yang telah dibuat oleh panitia malam ini adalah malam Campfire dimana merupakan sejenis acara perpisahan yang dilakukan oleh peserta Camp. Dengan sedikit pembukaan oleh panitia, Campfire pun dimulai. Kelompok pertama yang mendapatkan giliran untuk tampil adalah kelompok kami yaitu kelompok “Ninjas”. Tanpa rasa malu kamipun langsung maju kedepan dengan memberi salam hormat. Pertunjukan pun dimulai. Seperti yang sudah direncanakan, pertunjukan kami mulai dengan yel – yel dilanjutkan dengan tari “Kecak” dan “Jaipong” serta acara tinju/Gulat diteruskan dengan menyanyikan lagu In The Early Morning Walk dan ditutup dengan Lagu Friends Forever. Pada awalnya kami sempat tertawa – tawa, tapi ketika menyanyikan lagu Friends Forever, kami semua terharu karena kami akan segera berpisah pulang ke rumah masing - masing keesokan harinya. Pertunjukan pun selesai, ternyata pertunjukan dari kelompok kami mendapatkan responds yang positif dari para penonton. Senang rasanya., kami sekelompok kembali ke tempat duduk kami dan Campfire pun dilanjutkan dengan pertunjukan dari kelompok – kelompok lainnya. Setelah semua kelompok selesai mempertunjukkan pertunjukkannya, Campfire dilanjutkan dengan acara MTV dance, yaitu acara dansa yang dilakukan oleh dua orang perwakilan siswa dari tiap kelompok satu dari Indonesia dan satu dari Singapura. Ternyata acara ini tidak kalah serunya dengan pertunjukkan dari semua kelompok sebelumnya. Seperti acara dansa pada umumnya, sepasang siswa berdansa berdasarkan musik yang diputarkan oleh panitia, musik bisa berupa musik bollywood, slow pop, samba, reggea, dan romantic. Di acara ini juga akan dipilih 1 pasang siswa yang menampilkan dansa yang terbaik. Satu persatu perwakilan dari setiap kelompok mulai berdansa, dan pada akhirnya yang terpilih adalah pasangan dari kelompok 9. Di malam Campfire juga semua trainer menampilkan sebuah pertunjukan yang tidak kalah serunya dengan para kelompok yang lain. Dan di malam Campfire ini juga bapak Wasito menampilkan pertunjukkan gitar dengan menyanyikan lagu burung kakaktua dan Kapan – kapan ciptaan Koes Plus. Tak terasa pertunjukkan demi pertunjukkan telah berakhir dan tibalah waktunya untuk kegiatan Trainer Interaction di luar kantin. Di sini kami diminta untuk menceritakan pengalaman kami selama 4 hari mengikuti Camp ini dan memberitahukan perubahan apa yang telah terjadi di sikap kami selama mengikuti Camp ini. Zarchi bersuka rela menjadi yang pertama untuk menceritakan pengalamannya setelah itu Zarchi menunjuk saya untuk menceritakan pengalaman saya dan perubahan apa yang terjadi di dalam sikap saya. Saya berkata bahwa Camp ini sangat bagus dan edukatif, memang pada awalnya kami tidak terlalu mengenal satu sama lain sehingga kami tidak perduli terhadap yang lain dan pada awalnya saya pikir semua orang tidak bisa bekerja sama sebagai satu tim. Namun semua pikiran saya itu ternyata salah, seiring kegiatan – kegiatan yang kami lalui hari demi hari, kerjasama dan pemahaman antar kelompok sedikit – demi sedikit mulai terbentuk, setiap anggota grup mulai menunjukkan siapa diri mereka sebenarnya dan klimaksnya pada hari ke – 3 yaitu acara Heritage Trail yang merupakan titik balik bagi kami semua sehingga semua pikiran negatif menjadi hilang dan kami semua menjadi teman baik. Perubahan yang terjadi di dalam sikap saya adalah, saya menjadi lebih percaya diri untuk mengambil keputusan, meningkatkan jiwa kepemimpinan saya, meningkatkan kemampuan bekerja sebagai tim dan yang paling terasa adalah kepercayaan diri untuk menunjukkan siapa diri saya sebenarnya. Setelah puas menceritakan pengalaman dan perubahan saya, saya menunjuk Weili untuk memberikan pengalamannya dan seterusnya hingga semua anggota grup menceritakan pengalamannya. Pada intinya mereka semua mengatakan bahwa Camp ini bagus dan dapat meningkatkan rasa disiplin. Di akhir Trainer Interaction ini, Trainer kami, Syaiful menceritakan pengalamannya. Ia mengatakan bahwa pada awalnya kami memang susah untuk bekerja sama namun pada akhirnya kami semua bisa bekerja sama sebagai tim yang kompak. Ia juga mengatakan bahwa ia senang bisa menjadi Trainer grup kami. Disini juga kami mendapatkan satu botol Coca Cola 1,5 liter untuk dihabiskan satu kelompok. Puas menceritakan pengalaman kami, kami semua kembali ke dorm kami masing – masing untuk beristirahat dan packing untuk kepulangan menuju Indonesia keesokan harinya.
Keesokan harinya adalah hari kepulangan kami. Seperti biasa hari dimulai dengan sarapan pagi dan dilanjutkan dengan Area Cleaning, bedanya Area Cleaning hari ini membersihkan semua ruangan di daerah belakang dan membersihkan Toilet dengan menggunakan cairan pembersih wangi seperti sampo dan sabun cair agar bau toilet menjadi harum. Kegiatan lalu dilanjutkan dengan acara penutupan, yakni penutupan dari Departemen Pendidikan Singapura dan Indonesia dan pemutaran/ slide show foto – foto kegiatan para peserta camp selama mengikuti Camp ini. Setelah penutupan berlalu, maka selesailah acara Indonesia Singapore Student Leaders` Adventure Camp tahun 2008 ini. Tibalah saatnya kami siswa Indonesia kembali pulang ke Tanah Air. Perpisahan dengan siswa Singapura sangat mengharukan bahkan ada beberapa siswa yang menangis karena terharu.Dihari ini juga kami semua bertukar email dan nomor telepon serta suvenir yang kami bawa dari rumah masing – masing. Dari Dairy Farm Road ini kami diantar ke Changi Airport dengan menggunakan bis yang sudah disiapkan panitia. Setelah mengucapkan perpisahan kepada para Trainer dan pihak Dinas Pendidikan Singapura, kami segera bertolak menuju Changi Airport. Perjalanan menuju Changi Airport memakan waktu kurang lebih 45 menit. 45 menit berlalu, sampailah kami di Changi Airport. Disini pembimbing kami memberitahukan bahwa pesawat akan take off pada pukul 17.40 PM dan sebelum itu kami harus Check In terlebih dahulu, tetapi karena ketika kami datang waktu masih menunjukkan pukul 1.00, kami berencana untuk menunggu sekaligus makan siang terlebih dahulu. Siang ini, saya dan teman – teman saya berencana untuk mencari tempat makan yang halal dan akhirnya kami menemukannya. Disini kami memesan nasi Bryani sebagai menu santap siang kami. Puas mengisi perut kami yang kosong, kami kembali ke lobby untuk menunggu yang lain yang sedang makan siang juga. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 2.30 PM, pembimbing saya Pak Alit membagikan paspor kepada saya dan kelompok 3 dan kami segera Check In. Diwaktu kami Check In, teman – teman Singapura kami datang untuk mengucapkan perpisahan. Kami semua siswa Indonesia yang belum Check In menjadi terharu. Tak terasa tibalah saatnya kami untuk masuk ke ruang tunggu perpisahan dengan teman Singapura kam pun tak mungkin untuk terelakkan. Dengan perlahan kami memasuki ruang tunggu diiringi oleh teman – teman Singapura kami. Mereka semua mengucapkan selamat tinggal untuk kami dan dengan perasaan terharu kamipun memasuki ruang tunggu pesawat. Disini kami diberikan waktu 45 menit untuk berbelanja sebelum masuk ke Waiting Area oleh pak Marudut Marpaung. Waktu yang 45 menit ini tidak kami sia – siakan begitu saja, kami berkeliling untuk mencari sesuatu untuk dibeli. Saya sendiri berkeliling untuk mencari toko buku barangkali ada buku bagus yang dijual disini. 45 menit berlalu, kami semua masuk ke dalam Waiting Area untuk boarding ke pesawat. Perjalanan menuju Tanah Air memakan waktu 1.5 jam. Perjalanan kami kali ini sangat mulus dan tidak terjadi turbulensi seperti yang kam alami ketika akan berangkat menuju Singapura. Tak terasa akhirnya sampailah kami di Bandara Soekarno – Hatta. Disini seperti biasa kami harus melewati imigrasi untuk cap paspor dan mengambil bagasi kami. Pak Marudut Marpaung dan Pak Saur Tampubolon mengatakan kami semua harus ke wisma terlebih dahulu untuk memudahkan pendataan dan untuk menikmati makan malam yang sudah disiapkan oleh panitia. Seusai makan saya dan teman saya dari Makassar pulang bersama – sama karena kebetulan kami searah dan selesailah kegiatan Indonesia Singapore Student Leaders`s Adventure Camp yang kedua di tahun 2008 ini.
Kesan – Kesan
Kegiatan ini sangat bagus karena dapat meningkatkan rasa kepemimpinan siswa dan dapat menjalin hubungan yang harmonis antara dua negara dalam konteks ini adalah Indonesia dan Singapura.
Beberapa hal yang saya pelajari dari Singapura ini adalah pentingnya transportasi dan infrastruktur jalan yang memadai, sebab dengan transportasi yang baik dan ditunjang dengan infrastruktur jalan yang baik, kita bisa mengefisienkan penggunaan bahan bakar minyak dan tentunya mengefisienkan waktu, dengan begitu kemacetan, polusi udara, dan pemborosan minyak melalui kemacetan dapat dikurangi. Semakin baik transportasi dan Infrastuktur jalan suatu negara, semakin baik pula perekonomian dan semakin efisien pula penggunaan bahan bakar sehingga pemerintah tidak perlu menghambur – hamburkan uang untuk mensubsidi BBM yang pada akhirnya terbakar sia – sia dalam kemacetan yang kerap kali terjadi di kota besar seperti Jakarta. Satu lagi hal yang saya perhatikan adalah pentingnya trotoar bagi pejalan kaki.
Negara Singapura merupakan negara yang bersih, dan inilah yang akan saya coba terapkan di lingkungan sekolah saya setidaknya di lingkungan sekitar kelas saya.
Siswa Singapura sangat disiplin, menjunjung tinggi perbedaan, mempunyai jiwa apresiasi yang tinggi, jiwa humaniora yang tinggi dan berani mengambil keputusan dan tidak segan – segan untuk ditunjuk menjadi pemimpin. Semua itulah yang sepantasnya ditiru oleh Siswa Indonesia dan saya akan mencoba untuk mensosialisasikannya di lingkungan sekolah saya untuk menciptakan siswa yang disiplin dan mempunyai jiwa apresiasi yang tinggi.
Di semua sekolah di Singapura sebelum masuk sekolah mereka memutarkan lagu kebangsaannya Forward Singapura dengan tujuan untuk meningkatkan rasa cinta tanah air dan meningkatkan jiwa Patriotisme siswa. Mungkin ini bisa diterapkan di semua sekolah di seluruh Indonesia untuk meningkatkan rasa cinta tanah air dan jiwa Patriotisme siswa.
Pra Keberangkatan, 28 Oktober – 30 November 2008
Hari itu yakni tanggal 28 Oktober saya menerima surat dari Dikdasmen yang memberitahukan bahwa saya lolos untuk mengikuti ajang Indonesia – Singapore Student Leaders` Adventure Camp ( ISSLAC ) yang kedua yang akan diadakan di Singapore tepatnya di Dairy Farm Road. Saya ikuti semua syarat yang diberitahukan untuk mengikuti event ini, beberapa hari setelah saya kirim semua persyaratan termasuk passport, saya menerima surat pemberitahuan dari Dikdasmen yang isinya pemberitahuan waktu orientasi dan keberangkatan yakni masing – masing tanggal 30 November yang bertempat di Wisma Handayani Cipete Jakarta Selatan dan 1 Desember 2008 dari Bandara Soekarno – Hatta. Tibalah waktunya untuk mengikuti orientasi mengenai kegiatan yang akan kami lalui. Orientasi bertempat di Wisma Handayani. Saya bertemu banyak peserta lainnya dari berbagai sekolah di Indonesia setelah saya sampai di Wisma. Disana juga saya bertemu teman – teman lama yang lolos seleksi Sunburst Youth Camp yang diadakan tanggal 25 – 28 Mei 2008 di tempat yang sama, jadinya ada semacam reunian bersama teman – teman yang juga lolos seleksi Sunburst Youth Camp seperti saya. Disana juga saya bertemu Bapak Marudut Marpaung, ketua panitia pelaksana kegiatan ini, yang membagikan name tag peserta dan tas travel kepada peserta.
Tibalah waktu orientasi yang bertempat di gedung C Wisma Handayani. Acara pertama dalam kegiatan orientasi ini adalah sambutan dari Kepala Biro Perencanaan dan Kerja Sama Luar Negeri Bapak Dr.R. Agus Santoso, MBA, lalu dilanjutkan oleh paparan di bidang manajemen pendidikan dasar dan menengah oleh Bapak Dr. Bambang Indriyanto, MSc, selaku Sekretaris Direktorat Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, setelah itu dilanjutkan dengan Dinamika Hubungan Indonesia – Singapore di Bidang Pendidikan oleh Direktur Asia Timur dan Pasifik Departemen Luar Negeri Drs. Kristiarto Legowo. Melelahkan memang tetapi semua itu perlu sebagai bekal untuk menghadapi event yang akan kami lalui. Setelah selesai pemaparan dari Bapak Kristiarto Legowo, para peserta diberikan waktu untuk ISHOMA sampai jam 1 siang. 1 jam telah berlalu, saatnya untuk mengikuti orientasi kembali yakni mengenai pengembangan kepribadian siswa oleh Prof. Dr. Nurachman Hadjam dari Universitas Gadjah Mada yang merupakan rektor Psikologi UGM. Mungkin materi inilah yang paling saya suka sebab melalui materi yang diberikan oleh Prof. Nurachman saya bisa mengenali kelemahan saya yang harus dihilangkan dan kelebihan saya yang bisa ditunjukkan kepada orang – orang Singapura untuk memberikan impresi yang baik kepada mereka tentang Indonesia. Tibalah waktunya untuk pembekalan teknis mengenai keberangkatan, apa saja yang harus kita lakukan ketika keberangkatan dan setelah tiba di Singapura yang diberikan oleh para panitia. Semua materi yang diberikan sangatlah bagus untuk menunjang kegiatan kami disana, tapi alangkah baiknya bila untuk tahun depan, para panitia bisa membagikan handout materi yang disampaikan oleh para narasumber agar para peserta dapat memahami materi dengan lebih baik.
5 jam telah berlalu seiring selesainya orientasi kepada para peserta kegiatan Indonesia – Singapore Student Leader`s Adventure Camp. Tibalah waktunya untuk istirahat dan tidur untuk mempersiapkan diri untuk keberangkatan ke Singapura besok pagi.
Keberangkatan dan Kedatangan di Camp, 1 Desember 2008
Keesokan harinya saya bersiap berangkat ke bandara jam 6.30 karena saya mendapat group pertama. Sampailah kami di bandara Soekarno – Hatta. Rencananya kami akan berangkat dengan menggunakan pesawat Garuda GA 824 yang take off jam 9.50 WIB. Beberapa jam berlalu tibalah saatnya kami untuk take off menuju Changi Airport. Penerbangan menuju Changi Airport diperkirakan memakan waktu kurang lebih 105 menit. Menit demi menit berlalu, tibalah kami di Changi International Airport. Impresi pertama saat menginjakkan kaki di Changi Airport yaitu airportnya sangat bagus, tertata rapi, bersih, terawat. Saat tiba, kami dijemput oleh trainer dari Innotrek dan dari departemen pendidikan Singapura, mereka menyediakan bis untuk kami semua. Di perjalanan, kami melihat kota Singapura yang sangat rapi, bersih, hijau, terdapat trotoar yang lebar bagi pejalan kaki, transportasi yang baik, serta masyarakat yang disiplin. Mungkin itulah yang harus kita benahi sebagai warga Indonesia, khususnya para generasi muda yang merupakan calon pemimpin di masa depan. Akhirnya tibalah kami di Camp kami di Dairy Farm Road. Pada awalnya, saya agak canggung dengan dialek Singlishnya ( Singapore English ) orang Singapura, tetapi lama – kelamaan saya mulai beradaptasi sehingga akhirnya saya bisa berbincang – bincang dengan Trainer dari Innotrek yang menjemput kami di bandara dan orang dari Departemen Pendidikan Singapura dengan lancar.
Setibanya kami di Camp, kami dikumpulkan di suatu ruangan yang ternyata merupakan sebuah kantin atau dining hall, disana kami diperkenalkan dengan Camp Chief yang bertanggung jawab terhadap kegiatan ini yaitu Chief Ismael. Disana juga kami diberikan arahan – arahan mengenai acara ini dan juga pengumpulan benda – benda berharga seperti Handphone dan dompet untuk menghindari hal – hal yang tidak diinginkan sembari menunggu rombongan kedua tiba.
Setelah rombongan kedua tiba di Dairy Farm Road, kami dibagi menjadi sembilan kelompok yang terdiri dari siswa siswi dari Indonesia dan Singapore yang seharusnya terdiri dari 9 orang siswa Singapura dan 9 orang siswa Indonesia, namun di dalam kelompok saya hanya ada 17 orang. Menit demi menit berlalu, tibalah saatnya untuk acara pembukaan Camp dengan menaikkan bendera kedua negara yakni Indonesia dan Singapura dan dilanjutkan oleh sambutan dari Ketua Camp dari Singapura dan sambutan dari Diknas Indonesia.
Acara pembukaan pun berlalu, kini saatnya kami untuk menikmati hidangan makan malam yang disediakan oleh panitia, ternyata makanannya adalah makanan Malaysia, jadinya lidah kami agak terbiasa dengan makanan tersebut. Pada saat itu saya agak lucu melihat trainer memberi aba – aba untuk menepuk meja keras – keras, yang paling keras dapat makanan duluan. Itulah salah satu hal yang saya kagumi dari masyarakat Singapura yakni berani untuk menunjukkan siapa dirinya alias percaya diri. Selesai makan, kami diharuskan untuk mencuci piring kami sendiri dengan melewati rute yang sudah ditetapkan panitia. Objektif dari peraturan ini adalah untuk menumbuhkan rasa disiplin pada peserta Camp.
Penuh sudah rasanya perut ini, acara makan malam pun selesai, kami di perintah untuk keluar kantin mencari tempat dengan kelompok kami dan tentunya dengan trainer kami yakni Syaiful. Syaiful menyuruh kami untuk menggambar poster kelompok kami disertai gambar telapak tangan dengan objektif yang ingin diraih dari Camp ini didalamnya.
Pada hari pertama ini terlihat anak – anak Singapore lebih mendominasi dalam kegiatan di hari pertama ini, mungkin karena kami belum begitu mengenal satu sama lain dan faktor kelelahan.
Selesai acara Poster Drawing, kami diajak trainer kami, Syaiful, melakukan Nature Walk ke Dairy Farm Quarry tepat 50 meter disamping camp kami tapi sebelumnya Syaiful meminta kami untuk membawa sesuatu yang merepresentasikan diri kami. Syaiful menginstruksikan kami untuk tidak menyalakan lampu senter yang kami bawa dengan alasan agar mata kita bisa beradaptasi dengan kegelapan malam. Kira – kira 10 menit berjalan menyusuri kegelapan malam, tibalah kami di ujung Dairy Farm Quary, tempatnya indah di waktu malam. Syaiful mengatakan bahwa dulu tempat ini merupakan bukit yang penuh timah, karena penuh dengan timah bukit ini digali dan di dinamit untuk mendapatkan timah sehingga menyisakan tempat/lapangan terbuka di tengah bukit. Disini Syaiful juga meminta kami untuk menjelaskan arti dari barang yang kami bawa untuk merepresentasikan diri kami. Lagi – lagi siswa Singapore yang secara sukarela menawarkan diri untuk maju pertama, namanya Weili, ia membawa pena yang mencerminkan bahwa ia bisa cocok dengan segala situasi. Selanjutnya saya sukarela menawarkan diri untuk maju kedua, saya membawa notebook atau lebih spesifiknya kertas yang berarti bisa cocok dengan segala situasi, mudah menyerap informasi, mudah dibentuk untuk menyesuaikan diri, dan yang lebih penting lagi sangat diperlukan oleh orang lain karena kertas sangat diperlukan oleh orang banyak. Selanjutnya teman dari singapore maju lagi, dan singapore lagi sesudahnya, baru ada siswa Indonesia yang berani maju lagi yakni Arisenno dan Brian. Total siswa Indonesia yang berani maju dalam kelompok 1 pada kegiatan Nature Walk ini adalah 3 orang yakni saya, Ariseno dan Brian.
Setelah puas memandangi indahnya malam, kami sekelompok kembali ke Camp untuk menikmati supper di kantin dilanjutkan oleh istirahat malam. Acara pada hari pertama ini selesai pada pukul 11.20 kurang lebih.
Hari ke – 2
Keesokan harinya, kami harus berkumpul di kantin pada pukul 7.20 waktu Singapura untuk menikmati hidangan pagi atau breakfast. Rencananya hari ini kami akan melakukan Dragon Boating di Kallang Sport Center dan Sentosa Race di Sentosa Island. Seperti biasa, kami harus menepuk meja untuk mendapatkan makan, dan seperti biasa pula kami harus mencuci piring kami seusai makan.
Kegiatan dilanjutkan dengan acara Area Cleaning seusai makan. Pada kegiatan ini kami diharuskan membersihkan dorm kami dan merapikannya, serta membersihkan WC dengan Horsereel yang tersedia di samping dorm kami.
Akhirnya, tibalah saatnya untuk Dragon Boating, kami semua diantar oleh bis yang sudah disiapkan oleh panitia untuk menuju Kallang Sport Center. Perjalanan memakan waktu kurang lebih 30 menit. Setibanya kami disana, kami dibriefing mengenai apa yang akan kami lakukan dan sedikit pelatihan mengenai Dragon Boating yang belum cukup familiar bagi siswa Indonesia, dan tentunya dengan sedikit pemanasan untuk meregangkan otot kami. Kira – kira 15 menit briefing pun selesai, tibalah saatnya untuk having fun di Kallang River, memang cuaca pada waktu itu lumayan terik, tetapi itu tidak menyulutkan semangat kami untuk melakukan kegiatan ini. Kamipun dibagikan vest bouyoncy dan paddle untuk Dragon Boating ini. Akhirnya giliran kelompok kami untuk menaiki Dragon Boat pun tiba, dengan perlahan dan hati – hati kami semua mulai menaiki Dragon Boat. Bapak Wing Waluyo pun menyertai kelompok kami untuk mengambil gambar, Camp Chief Ismael pun turut serta menyertai kelompok kami untuk mengambil gambar pula. Kamipun mulai mendayung dengan aba – aba dari trainer kami dalam Dragon Boating in yaitu David. Perlahan tapi pasti perahu kami mulai maju, dan lama – kelamaan jalannya pun semakin cepat seiring dengan timbulnya kerjasama di dalam kelompok kami. Di tengah sungai, trainer kami dalam kegiatan ini, David, menceritakan tentang sejarah Dragon Boat ini, dan menunjukkan bagian – bagian Singapura dari Kallang River ini. Dari Kallang River ini kami bisa melihat Singapore Flyer yang merupakan Roda Observasi terbesar di Dunia, dari sini juga kami bisa melihat turis – turis yang berwisata menggunakan Ducktour, semacam kendaraan amfibi yang bisa berjalan di air maupun di darat.
Setelah puas berkeliling Kallang River, kamipun siap untuk mengikuti Dragon Boat Race yang diikuti oleh semua kelompok. Peluit tanda mulai pun dibunyikan, kami sekelompok mendayung sekuat tenaga kami dengan dikoordinasi oleh aba – aba leader kami. Satu per satu kelompok kami lewati tinggallah satu kelompok lagi yaitu kelompok Indomie, namun akhirnya tidak terkejar dan kami harus puas menjadi juara kedua.
Seusai lelah berDragon Boating ria, kami pun disuguhi hidangan santap siang di pinggir Kallang River. Trainer kami, Syaiful, menanyakan mengenai objektif dari kegiatan ini, saya menjawab bahwa dalam kegiatan ini yang menjadi objektif ialah Teamwork yang bisa dicapai dengan Komunikasi, Koordinasi, dan Kooperasi. Ternyata jawabanku benar, ada teman ku siswa Singapura yang menambahkan tentang pentingnya ketiga faktor tersebut. Satu hal dari kegiatan ini adalah mulai timbulnya ikatan emosional dan kerjasama diantara siswa khususnya di kelompok saya.
Puas dengan santapan siang kami, kami pun melanjutkan perjalanan kami ke Sentosa Island untuk melakukan Sentosa Race dengan menggunakan bis yang sudah disiapkan oleh panitia. Sebelum berangkat ke Sentosa Island, kami diberi bekal untuk makan malam berupa 2 potong Sandwich yang kami buat sendiri di Kallang Sport Center. Perjalanan ke Sentosa Island memakan waktu 45 menit dari tempat kami sekarang. 45 menit berlalu, tibalah kami di Sentosa Island yang merupakan jantung pariwisata dari Negara Singapura ini. Di sana kami di briefing di Palawan Beach mengenai kegiatan yang harus kami lakukan. Di sini kami harus menemukan 8 Checkpoint yang tersebar di seluruh penjuru Sentosa Island, kami juga dibekali dengan checkpoint list dan peta Sentosa Island. Setelah mendapatkan peta dan checkpoint list, kami sekelompok mulai mencari checkpoint – checkpoint yang dimaksud di dalam peta Sentosa Island, dalam kegiatan ini Dewi, siswi dari Riverside School Singapore dipilih menjadi Leader kelompok kami oleh semua anggota kelompok. Dari kegiatan ini bisa dilihat siswa – siswi Singapore tidak malu – malu untuk dipilih menjadi ketua dan berani menjadi Decision maker. Hal inilah yang patut dicontoh oleh segenap siswa – siswi Indonesia yang kerap kali malu – malu bila dipilih untuk menjadi Decision Maker.
Race pun dimulai, checkpoint pertama yang akan kami tuju adalah mencari papan dengan tulisan “Southernmost Area in Asia Continental”,. Setelah menemukan papan itu, kami diharuskan menulis nama kelompok kami di pantai di seberang menara yang ada tulisan itu. Kami pun mulai menulis nama kelompok kami yaitu “Ninjas” di pasir pantai. Tapi sepertinya tulisan kami kurang terlihat, kami pun memutuskan untuk menambahkan rumput laut yang kebetulan tersedia di pantai untuk membuat tulisan kami lebih hitam dan lebih jelas. Setelah selesai kami pun mengambil foto group dengan latar belakang nama kelompok kami itu. Selesai dengan Checkpoint pertama, leader kami memutuskan untuk pergi menuju Checkpoint kedua yaitu ke Siloso Beach dengan objektif membuat istana pasir di depan tulisan SILOSO dan mengambil gambar di depannya. Dalam perjalanan ke Siloso Beach, cuaca berubah menjadi mendung dan terlihat kilat sedang menyambar angkasa, trainer dan observer kami memutuskan agar kami mencari tempat berlindung dari petir, safety procedure untuk cuaca seperti ini kata mereka, jadi terpaksa kami berteduh dan berunding untuk mencari checkpoint lain.
Setelah berunding ternyata cuaca menjadi lebih tidak bersahabat dan turunlah hujan lebat. Kami pun menjadi panik dan stress karena masih banyak checkpoint yang belum kami lewati. Di tengah kepanikan, observer kami memberitahukan hal yang tidak leader kami perhatikan. Hal itu tertulis di dalam checkpoint list yang isinya memberitahukan hal apa yang harus kami lakukan bilamana cuaca menjadi buruk. Kami semua tertawa setelah membaca hal itu dan memutuskan untuk melakukan aktifitas yang tercantum di dalam Checkpoint list yaitu Human Entangled. Hal ini cukup sulit bagi siswa Indonesia karena baru pertama kali melakukan hal ini, akhirnya dipilihlah satu siswa singapore untuk menjadi leader dalam kegiatan Human Entangled ini yaitu Wendy. Satu hal yang saya amati dari kegiatan ini adalah siswa – siswi Indonesia dan Singapore sama – sama tidak memperhatikan petunjuk secara keseluruhan alias terburu – buru.
Cuaca semakin memburuk dan kami pun memutuskan untuk tidak melanjutkan penjelajahan kami di Sentosa Island, sebagai gantinya, kami bermain di bawah tenda yang berada di pinggir pantai untuk mengisi waktu hingga hujan mereda. Disini kami melakukan permainan bersama – sama, disini juga saya mengajarkan permainan siswa – siswi Indonesia yang sering dimainkan oleh siswa – siswi Indonesia namanya permainan konsentrasi, dan berbagai macam permainan lainnya yang tentunya permainan Singapore dan Indonesia. Dibawah tenda ini pula kami sekelompok menikmati dinner kami yaitu 2 potong Sandwich + 1 buah pisang.
Tak terasa waktu menunjukkan pukul 7.45, kami pun segera bergegas untuk kembali ke Camp kami di Dairy Farm Road. Dalam perjalanan pulang, salah satu teman kelompok kami dari Indonesia, Bintang namanya, terpeleset di dekat halte Bis. Kejadian itu membuat tangannya terkilir sehingga ia tidak bisa mengikuti kegiatan di hari – hari selanjutnya secara maksimal. Teman atau buddy Singapuranya Bintang, Weili dengan senang hati menolong membawakan tasnya Bintang dan membantunya berjalan. Ternyata jiwa kemanusiaan dan kesetiakawanan siswa Singapura cukup tinggi.
Tak terasa, sampailah kami di Camp kami yang tercinta. Kami dikumpulkan kembali di kantin untuk menikmati minuman hangat yaitu milo hangat setelah berjalan lama. Tak lupa juga trainer kami memberitahukan kegiatan apa yang akan kami lakukan keesokan harinya dan barang – barang apa saja yang perlu kami bawa. Pada hari ini waktu untuk tidur ditetapkan pukul 11.00.
Hari Ke – 3
Keesokan harinya seperti biasa, hari dimulai dengan sarapan pagi di kantin, hari ini juga kami siswa Indonesia mendapatkan suatu permainan baru yang bernama Cup Games atau yang lebih dikenal dengan nama Michigan Box dimana kami memainkan sebuah cup satu orang satu dan dimainkan secara bersama – sama sehingga membentuk sebuah irama yang melodis. Setelah sarapan pagi acara kami dilanjutkan dengan Area Cleaning, tapi Area Cleaning kali ini kita tidak hanya membersihkan dorm kita, tetapi juga membersihkan dorm tetangga. Selesai Area Cleaning, kami berkumpul di depan Kantin untuk menunggu bis dan instruksi lebih lanjut dari Camp Chief. Seperti yang sudah direncanakan sebelumnya, hari ini tepatnya hari ketiga yaitu tanggal 3 Desember 2008 kami akan mengadakan Heritage Trail, yaitu kegiatan mengunjungi situs – situs atau tempat – tempat budaya di Singapura yang diantaranya Chinatown, Little India, Kampung Glam, Fort Canning, Fountain of Wealth di Suntec City, dan Esplanade. Bis pun tiba, kami semua masuk ke dalam bis satu persatu.
Tujuan pertama kami adalah Marina Barrage, yaitu tempat yang berfungsi sebagai bendungan air laut, pengontrol banjir atau pintu air, dan sebagai reservoir air tawar sebagai konsumsi untuk penduduk kota. Kegiatan pertama kami disini ialah mengadakan permainan dan juga briefing dari trainer mengenai apa yang harus kami lakukan dalam kegiatan Heritage Trail ini. Pihak panitia juga membagikan 25 dolar Singapura kepada semua peserta untuk transportasi dan makan siang serta makan malam. Pada kegiatan kali ini Saya dipercaya oleh kelompok saya untuk menjadi leader dalam kegiatan Heritage Trail ini sekaligus sebagai pemegang dan pengatur uang yang dibagikan oleh penitia. Di Marina Barrage ini juga kami mendapatkan kesempatan untuk menikmati pemandangan Singapura melalui Dragon Trail, yaitu jalan melingkar seperti naga ke atas gedung Marina Barrage.
Disini kami juga berkesempatan untuk mengunjungi Singapore Sustainable Galery yang memperlihatkan usaha – usaha pemerintah untuk menjaga sumber air tawar untuk konsumsi penduduk kota di Singapura. Penduduk Singapura sangat menjunjung tinggi penghematan air dan reservasi air, hal ini harus kita contoh di Indonesia untuk menjaga pasokan air tanah kita dengan tidak menggunakan air tanah berlebihan dan sia – sia. Setelah puas melihat – lihat isi Singapore Sustainable Galery, kami memutuskan untuk menentukan “Trail” kami, tujuan pertama kami adalah Chinatown, dilanjutkan oleh Little India, lalu Kampung Glam, setelah itu Fort Canning, Suntec City dan tujuan terakhir kami adalah Esplanade. Karena kami semua sudah kelaparan, saya memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu di Chinatown Point, kami kesana menggunakan SMRT ( Subway Mass Rapid Transportation). Sesampainya kami di stasiun SMRT terdekat, kami langsung membeli tiket dengan uang yang sudah disiapkan panitia. Di stasiun ini kami membeli tiket dengan menggunakan mesin GMT yang merupakan mesin pemroses tiket otomatis.
Selesailah sudah kegiatan membeli tiket, sekarang tibalah saatnya untuk kami untuk menunggu kereta, rencananya kami akan berhenti di Dhorby Gout dan transfer ke arah Chinatown. Disaat masuk kereta kebetulan keretanya kosong, jadinya kami sempat mengambil foto group di dalam kereta. Perjalanan menuju Chinatown memakan waktu kurang lebih 18 menit. Tak terasa 18 menit sudah berlalu, sampailah kami di Chinatown Point, tempat dimana kami merencanakan untuk makan siang. Pada awalnya kami sempat bingung, karena takut restoran yang ada di Chinatown Point tidak menyediakan makanan halal, akhirnya saya memutuskan untuk makan siang di McDonald. Untuk makan siang ini kami dijatah 5 dolar per siswa. Setelah puas mengisi perut kami yang sudah keroncongan sejak di Marina Barrage, kami pun siap melanjutkan “Trail” kami.
Seperti yang sudah kami rencanakan, tujuan pertama kami adalah Chinatown dengan objektif mencari kuil yang gambarnya ada di Checkpoint list kami, mencari food stall, dan mencari food stall yang menjuad Lotus Seed Soup serta menanyakan resep dan mencicipi Lotus Seed Soup dan tentu saja mengambil gambar kelompok sedang memakan Lotus Seed Soup. Objektif kami pun selesai, kami segera melanjutkan perjalanan ke Little India, yaitu tempat dimana orang – orang India pertama kali menetap di Singapura. Kami menuju Little India dengan menggunakan SMRT yang nyaman dan cepat. Seperti biasa kami harus membeli tiket dulu untuk memasuki SMRT. Perjalanan ke Little India ini memakan waktu 10 menit karena terletak satu arah dengan Chinatown sehingga kami tidak perlu transit terlebih dahulu.
Tak terasa 10 menit sudah berlalu dan tibalah kami di Little India. Disini kami diharuskan mencari kuil yang gambarnya ada di dalam Checkpoint List. Lelah memang setelah melakukan perjalanan yang panjang dair Marina Barraga, tapi semua itu kami lalui dengan penuh sukacita dan gembira sehingga penat yang ada tak dirasa. Setelah berkeliling dan melihat peta, tibalah kami di kuil yang merupakan objektif kami, seperti biasa kami diwajibkan mengambil foto di depan kuil. Namun ketika kami akan mengambil foto di depan kuil, kami dilarang oleh penjaga kuil, ia berkata bahwa kami melakukan hal yang tidak baik, jadi terpaksa kami tidak mengambil foto di depan kuil tersebut. Objektif kami selanjutnya adalah mencari pengrajin Flower garland, yaitu rangkaian bunga yang biasa di buat oleh orang India untuk dikenakan di leher. Cerita punya cerita kami pun akhirnya menemukan pengrajin Flower Garland, tetapi ketika kami bertanya tentang bagaimana cara membuatnya, ia tidak memberitahu kami. Tak sampai disitu saja perjuangan kami, kami tetap mencari pembuat Flower Garland lain dan akhirnya kami menemukannya, tetapi hal yang sama pun terjadi. Saya memutuskan untuk melewatkan objektif ini karena saya berpikir pasti akan sama di setiap pembuat Flower Garland mungkin itu merupakan rahasia mereka jadinya mereka tidak akan memberitahu siapapun. Kami memutuskan untuk melanjutkan Trail kami ke Kampung Glam, yaitu tempat dimana orang – orang melayu tinggal pada saat pertama kali mereka mengunjungi Singapura. Pada awalnya kami berencana untuk menaiki SMRT, tetapi trainer kami, Syaiful memberitahu kami bahwa ia mengetahui jalan menuju Kampung Glam dari Little India ini, jadi kami memutuskan untuk berjalan sekaligus menghemat uang yang diberikan oleh panitia. Di sepanjang jalan menuju ke Kampung Glam, kami semua bercanda ria dan mulai terlihat keakraban diantara kami, mulai tumbuh persahabatan diantara kami. Setelah melalui jalan yang cukup melelahkan, tibalah kami di Kampung Glam. Sebelum melanjutkan Trail kami, Syaiful menawarkan kami untuk melaksanakan shalat terlebih dahulu di Masjid Sultan, kami sekelompok menerima tawarannya dan shalatlah kami semua yang beragama Islam di Masjid Sultan. Selesai shalat, kamipun melanjutkan Objektif kami di Kampung Glam ini yaitu menanyakan bahan dasar pembuatan kubah Masjid Sultan dan mengambil foto group di depan Masjid Sultan ini. Kami pun mulai mencari informasi mengenai bahan pembuat kubah Masjid Sultan ini, saya dan teman saya bertanya kepada penunggu masjid, ia berkata bahwa dasar dari Kubah Mesjid Sultan ini terbuat dari botol kecap manis. Dengan begitu selesailah objektif yang pertama.Objektif selanjutnya ialah mengambil foto grup di depan Masjid Sultan dan itupun selesai dalam hitungan menit. Tak terasa waktu menunjukkan pukul 18.30, kamipun memutuskan untuk makan malam di Kampung Glam ini sebelum melanjutkan Trail kami, tetapi trainer kami berkata bahwa waktu kita tidak mencukupi lagi untuk mengunjungi Fort Canning, dan Suntec City, jadinya kami pun harus menuju Esplanade dan pulang bersama – sama dengan kelompok yang lain dari Esplanade. Singkat cerita kami pun memesan makanan dan makan hingga perut kami penuh, saya sendiri memesan Prata keju plus telur. Teman – teman saya yang dari Indonesia pun mengikuti saya karena mereka tidak familiar dengan makanan - makanan yang tertera di dalam daftar menu. No makan no Energy, begitu yang teman Singapura kami katakan sehingga setelah makan mereka mengatakan Makan full of energy lah!. Setelah makan kami melanjutkan Trail kami ke persinggahan terakhir yaitu Esplanade. Kami berencana untuk menggunakan SMRT dan turun di Stasiun City Hall. Namun suatu kejadian yang tak terduga terjadi, ketika kami akan menaiki SMRT, salah satu teman Singapura kami mengalami sesak napas atau Asma, akhirnya kami harus menunggu dan beristirahat untuk memulihkan kondisi teman kami terlebih dahulu. Kami sekelompok mencoba menolong sebisa kami dengan cara memberikan minum, mengipasinya, dan memijatinya. Saya lihat baik siswa Singapura maupun Indonesia mempunyai jiwa kemanusiaan dan kesetiakawanan yang tinggi. Di waktu kami merawat teman kami, tiba – tiba pak polisi datang dan menanyakan keadaan kami, pada mulanya saya agak deg- degan karena banyak sekali polisi yang datang, tetapi ternyata mereka hanya menanyakan apakah kami perlu membawa teman kami ke rumah sakit tetapi teman kami mengatakan bahwa ia tidak perlu dibawa kerumah sakit. Setelah kejadian itu kamipun melanjutkan perjalanan kami menuju Esplanade. Perjalanan menuju Esplanade memakan waktu kurang lebih 15 menit. Akhirnya sampailah kami di Esplanade, di sini kami hanya bermain sembari menunggu kelompok lain datang. Disini juga kami sempat mengabadikan foto kami sekelompok sedang meloncat didepan Esplanade. Tak terasa waktu berlalu dengan cepat, kelompok lain pun berdatangan dan kami semua kembali menuju Camp di Dairy Farm Road dengan menggunakan bis.
Saya melihat satu hal setelah kami melalui Heritage Trail hari ini, kerjasama tim dan pemahaman diantara anggota tim mulai meningkat dan bisa dibilang merupakan klimaks dari 4 hari yang kami lalui di Singapura. Ditambah lagi, teman – teman dari Singapura mengatakan setelah melalui kegiatan ini mereka jadi bisa lebih mengetahui bagaimana kami sebenarnya.
HARI KE – 4
Keesokan harinya, acara rutin kami seperti biasa sarapan pagi di kantin terlebih dahulu, lalu dilanjutkan dengan Area Cleaning dengan membersihkan dorm 1A dan B serta Toilet dan area sekitarnya. Hari ini rencananya kegiatan kami adalah Guided Nature Walk ke Mt.Faber dan Shopping di Mustafa Center di Little India. Tidak seperti hari sebelumnya, kali ini kami tidak menaiki SMRT melainkan menaiki bis yang sudah disiapkan oleh panitia. Tujuan pertama kami adalah Mt.Fabre dan perjalanan menuju Mt.Fabre memakan waktu kurang lebih 25 menit. Tak terasa 25 menit berlalu Mt.Faber sudah didepan mata. Disana kami bertemu dengan Zhang yang akan menjadi pemandu kami selama Nature Walk di Mt.Faber ini. Zhang sendiri merupakan orang Singapura keturunan Tionghoa. Mf.Faber sendiri bukanlah sebuah gunung seperti yang tergambar di namanya “Mount/Mt” melainkan sebuah bukit yang paling tinggi di Singapura. Disepanjang perjalanan menuju ke puncak Mt.Faber, Zhang menceritakan sejarah Mt.Faber. Ia mengatakan bahwa Mt.Faber ini merupakan Secondary Forest atau hutan artifisial yang ditanami oleh manusia sebagai tempat rekreasi, cagar alam, serta paru – paru kota. Dahulu Mt.Faber ini adalah sebuah hutan yang ditebang untuk mendapatkan kayunya untuk membangun Singapura. Nama Faber sendiri diambil dari nama Arsitektur yang merancang tata hutan ini dan taman yang terletak di puncak bukit ini. Selain itu, Zhang juga memperkenalkan tanaman – tanaman yang terdapat di Mt.Faber ini yang tentu saja sudah tidak asing lagi bagi siswa – siswa Indonesia seperti pohon saga, petai, karet, kuping gajah, dan sirih. Tak terasa setelah berjalan jauh dan juga melelahkan mendaki Mt.Faber, tibalah kami di puncak Mt.Faber. Di puncak Mt.Faber, kami dapat melihat Pulau Batam Provinsi Kepulauan Riau dan kota Singapura dengan menggunakan Teropong. Tak lupa kami seperti biasa mengambil foto grup sebagai kenang – kenangan. Di sini Trainer kami Syaiful memberitahukan bahwa nanti malam adalah acara CampFire dimana setiap kelompok diwajibkan menampilkan pertunjukan. Kamipun berdiskusi untuk menentukan pertunjukan apa yang akan kami tampilkan nanti malam. Saya mengusulkan agar kelompok menampilkan tarian Indonesia yang dimodif dan dicampur dengan sedikit drama serta menari Dangdut di akhir acara dan tentu saja dengan lagu yang disenangi oleh grup kami. Ternyata pendapat saya disetujui oleh anggota grup kami. Zarchi menambahkan agar di akhir pertunjukan, kami juga menyanyikan lagu In The Early Morning Walk dan Graduation Song dan kami semua pun menyetujuinya. Tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 12 siang, saatnya kami menikmati santap siang kami, tentu saja dengan menuruni Mt.Faber terlebih dahulu karena makanan yang disediakan panitia berada di bawah. Lelah juga menuruni Mt.Faber ini tetapi apa boleh buat, makanannya ada di bawah sehingga mau tidak mau kami harus menuruni bukit ini. Setelah beberapa menit berjalan, sampailah kami di dasar Mt.Faber untuk menikmati santap siang kami. Rencananya setelah santap siang ini kami akan melanjutkan perjalanan kami ke Mustafa Center untuk berbelanja membeli suvenir yang sudah ditunggu – tunggu oleh siswa Indonesia. Santap siang pun selesai, kami melanjutkan perjalanan kami ke Mustafa Center yang terletak di Little India dengan menggunakan SMRT. Perjalanan menuju Mustafa Center yang terletak di Little India memakan waktu kurang lebih 15 menit. 15 menit telah berlalu, kami pun akhirnya sampai di Mustafa Center untuk berbelanja suvenir. Trainer kami Syaiful mengatakan bahwa kami memiliki waktu hingga jam 2 siang dan kami harus berkumpul di depan Mustafa Center lagi. Singkat cerita, kami semua masuk ke dalam Mustafa Center dan berbelanja. Saya sendiri tidak ingin menghabiskan terlalu banyak uang berbelanja jadinya belanjaan saya hanya sekedarnya saja. Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 1.50, saatnya kami untuk kembali berkumpul di depan Mustafa Center. Setelah semua berkumpul di Mustafa Center, kami semua kembali pulang ke Camp kami di Dairy Farm Road dengan menggunakan bis. Di dalam bis seperti biasa kami melakukan kegiatan – kegiatan anak – anak yang tentu saja membuat kegemuruhan di dalam bis, pada saat di dalam bis juga, trainer kami, Syaiful tertidur pulas. Moment ini tidak kami sia – siakan begitu saja, kami mengambil foto dengan Syaiful yang sedang tertidur dengan berbagai pose. Rasanya hari ini merupakan hari yang tidak terlupakan. 20 menit berlalu, kamipun sampai di Camp kami dan kami langsung menuju dorm kami untuk meletakkan belanjaan kami. Kami sekelompok juga mengadakan latihan untuk pertunjukan pada malam Campfire nanti. Seperti yang sudah direncanakan kami memulai latihan kami dengan mempertunjukkan yel – yel kelompok kami dilanjutkan dengan tarian “Kecak” versi kelompok kami dan “Jaipong” yang dikombinasikan. Untuk mengiringi tarian, kami sekelompok membuat suara “ea e um”. Pada awalnya kami menyanyikan “ea e um” dengan tempo yang lambat, makin lama makin cepat dan klimaksnya pada saat tempo paling cepat, teman kami yang menari di tengah lingkaran yang kami buat melakukan tarian “ngebor” dan “gergaji” yang merupakan tarian dangdut dan tanpa jelas dari mana datangnya, teman kami yang menari di tengah tiba – tiba jatuh dan pingsan, lalu ada seorang dukun yang menghidupkannya kembali dan ceritanya terjadilah sebuah acara tinju/gulat dengan ala matrix. Lucu memang, tapi itulah yang kami rencanakan membuat pertunjukan yang lucu agar malam Campfire nanti tidak terlalu sepi. Selanjutnya kami melanjutkan pertunjukan kami dengan menyanyikan lagu In The Early Morning Walk yang dikomandoi oleh Zarchi, kami semua menyanyi dengan riang gembira. Pertunjukan terakhir kami adalah menyanyikan lagu Graduation Song – Friends Forever dengan meletakkan tangan di pundak teman sebelahnya sehingga terbentuk sebuah rantai. Saya berinisiatif unuk menjadi beaternya/pengatur tempo ditemani oleh teman saya yang lain. Di malam harinya, seperti biasa kami mulai kegiatan dengan acara makan malam dan sesuai dengan jadwal yang telah dibuat oleh panitia malam ini adalah malam Campfire dimana merupakan sejenis acara perpisahan yang dilakukan oleh peserta Camp. Dengan sedikit pembukaan oleh panitia, Campfire pun dimulai. Kelompok pertama yang mendapatkan giliran untuk tampil adalah kelompok kami yaitu kelompok “Ninjas”. Tanpa rasa malu kamipun langsung maju kedepan dengan memberi salam hormat. Pertunjukan pun dimulai. Seperti yang sudah direncanakan, pertunjukan kami mulai dengan yel – yel dilanjutkan dengan tari “Kecak” dan “Jaipong” serta acara tinju/Gulat diteruskan dengan menyanyikan lagu In The Early Morning Walk dan ditutup dengan Lagu Friends Forever. Pada awalnya kami sempat tertawa – tawa, tapi ketika menyanyikan lagu Friends Forever, kami semua terharu karena kami akan segera berpisah pulang ke rumah masing - masing keesokan harinya. Pertunjukan pun selesai, ternyata pertunjukan dari kelompok kami mendapatkan responds yang positif dari para penonton. Senang rasanya., kami sekelompok kembali ke tempat duduk kami dan Campfire pun dilanjutkan dengan pertunjukan dari kelompok – kelompok lainnya. Setelah semua kelompok selesai mempertunjukkan pertunjukkannya, Campfire dilanjutkan dengan acara MTV dance, yaitu acara dansa yang dilakukan oleh dua orang perwakilan siswa dari tiap kelompok satu dari Indonesia dan satu dari Singapura. Ternyata acara ini tidak kalah serunya dengan pertunjukkan dari semua kelompok sebelumnya. Seperti acara dansa pada umumnya, sepasang siswa berdansa berdasarkan musik yang diputarkan oleh panitia, musik bisa berupa musik bollywood, slow pop, samba, reggea, dan romantic. Di acara ini juga akan dipilih 1 pasang siswa yang menampilkan dansa yang terbaik. Satu persatu perwakilan dari setiap kelompok mulai berdansa, dan pada akhirnya yang terpilih adalah pasangan dari kelompok 9. Di malam Campfire juga semua trainer menampilkan sebuah pertunjukan yang tidak kalah serunya dengan para kelompok yang lain. Dan di malam Campfire ini juga bapak Wasito menampilkan pertunjukkan gitar dengan menyanyikan lagu burung kakaktua dan Kapan – kapan ciptaan Koes Plus. Tak terasa pertunjukkan demi pertunjukkan telah berakhir dan tibalah waktunya untuk kegiatan Trainer Interaction di luar kantin. Di sini kami diminta untuk menceritakan pengalaman kami selama 4 hari mengikuti Camp ini dan memberitahukan perubahan apa yang telah terjadi di sikap kami selama mengikuti Camp ini. Zarchi bersuka rela menjadi yang pertama untuk menceritakan pengalamannya setelah itu Zarchi menunjuk saya untuk menceritakan pengalaman saya dan perubahan apa yang terjadi di dalam sikap saya. Saya berkata bahwa Camp ini sangat bagus dan edukatif, memang pada awalnya kami tidak terlalu mengenal satu sama lain sehingga kami tidak perduli terhadap yang lain dan pada awalnya saya pikir semua orang tidak bisa bekerja sama sebagai satu tim. Namun semua pikiran saya itu ternyata salah, seiring kegiatan – kegiatan yang kami lalui hari demi hari, kerjasama dan pemahaman antar kelompok sedikit – demi sedikit mulai terbentuk, setiap anggota grup mulai menunjukkan siapa diri mereka sebenarnya dan klimaksnya pada hari ke – 3 yaitu acara Heritage Trail yang merupakan titik balik bagi kami semua sehingga semua pikiran negatif menjadi hilang dan kami semua menjadi teman baik. Perubahan yang terjadi di dalam sikap saya adalah, saya menjadi lebih percaya diri untuk mengambil keputusan, meningkatkan jiwa kepemimpinan saya, meningkatkan kemampuan bekerja sebagai tim dan yang paling terasa adalah kepercayaan diri untuk menunjukkan siapa diri saya sebenarnya. Setelah puas menceritakan pengalaman dan perubahan saya, saya menunjuk Weili untuk memberikan pengalamannya dan seterusnya hingga semua anggota grup menceritakan pengalamannya. Pada intinya mereka semua mengatakan bahwa Camp ini bagus dan dapat meningkatkan rasa disiplin. Di akhir Trainer Interaction ini, Trainer kami, Syaiful menceritakan pengalamannya. Ia mengatakan bahwa pada awalnya kami memang susah untuk bekerja sama namun pada akhirnya kami semua bisa bekerja sama sebagai tim yang kompak. Ia juga mengatakan bahwa ia senang bisa menjadi Trainer grup kami. Disini juga kami mendapatkan satu botol Coca Cola 1,5 liter untuk dihabiskan satu kelompok. Puas menceritakan pengalaman kami, kami semua kembali ke dorm kami masing – masing untuk beristirahat dan packing untuk kepulangan menuju Indonesia keesokan harinya.
Keesokan harinya adalah hari kepulangan kami. Seperti biasa hari dimulai dengan sarapan pagi dan dilanjutkan dengan Area Cleaning, bedanya Area Cleaning hari ini membersihkan semua ruangan di daerah belakang dan membersihkan Toilet dengan menggunakan cairan pembersih wangi seperti sampo dan sabun cair agar bau toilet menjadi harum. Kegiatan lalu dilanjutkan dengan acara penutupan, yakni penutupan dari Departemen Pendidikan Singapura dan Indonesia dan pemutaran/ slide show foto – foto kegiatan para peserta camp selama mengikuti Camp ini. Setelah penutupan berlalu, maka selesailah acara Indonesia Singapore Student Leaders` Adventure Camp tahun 2008 ini. Tibalah saatnya kami siswa Indonesia kembali pulang ke Tanah Air. Perpisahan dengan siswa Singapura sangat mengharukan bahkan ada beberapa siswa yang menangis karena terharu.Dihari ini juga kami semua bertukar email dan nomor telepon serta suvenir yang kami bawa dari rumah masing – masing. Dari Dairy Farm Road ini kami diantar ke Changi Airport dengan menggunakan bis yang sudah disiapkan panitia. Setelah mengucapkan perpisahan kepada para Trainer dan pihak Dinas Pendidikan Singapura, kami segera bertolak menuju Changi Airport. Perjalanan menuju Changi Airport memakan waktu kurang lebih 45 menit. 45 menit berlalu, sampailah kami di Changi Airport. Disini pembimbing kami memberitahukan bahwa pesawat akan take off pada pukul 17.40 PM dan sebelum itu kami harus Check In terlebih dahulu, tetapi karena ketika kami datang waktu masih menunjukkan pukul 1.00, kami berencana untuk menunggu sekaligus makan siang terlebih dahulu. Siang ini, saya dan teman – teman saya berencana untuk mencari tempat makan yang halal dan akhirnya kami menemukannya. Disini kami memesan nasi Bryani sebagai menu santap siang kami. Puas mengisi perut kami yang kosong, kami kembali ke lobby untuk menunggu yang lain yang sedang makan siang juga. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 2.30 PM, pembimbing saya Pak Alit membagikan paspor kepada saya dan kelompok 3 dan kami segera Check In. Diwaktu kami Check In, teman – teman Singapura kami datang untuk mengucapkan perpisahan. Kami semua siswa Indonesia yang belum Check In menjadi terharu. Tak terasa tibalah saatnya kami untuk masuk ke ruang tunggu perpisahan dengan teman Singapura kam pun tak mungkin untuk terelakkan. Dengan perlahan kami memasuki ruang tunggu diiringi oleh teman – teman Singapura kami. Mereka semua mengucapkan selamat tinggal untuk kami dan dengan perasaan terharu kamipun memasuki ruang tunggu pesawat. Disini kami diberikan waktu 45 menit untuk berbelanja sebelum masuk ke Waiting Area oleh pak Marudut Marpaung. Waktu yang 45 menit ini tidak kami sia – siakan begitu saja, kami berkeliling untuk mencari sesuatu untuk dibeli. Saya sendiri berkeliling untuk mencari toko buku barangkali ada buku bagus yang dijual disini. 45 menit berlalu, kami semua masuk ke dalam Waiting Area untuk boarding ke pesawat. Perjalanan menuju Tanah Air memakan waktu 1.5 jam. Perjalanan kami kali ini sangat mulus dan tidak terjadi turbulensi seperti yang kam alami ketika akan berangkat menuju Singapura. Tak terasa akhirnya sampailah kami di Bandara Soekarno – Hatta. Disini seperti biasa kami harus melewati imigrasi untuk cap paspor dan mengambil bagasi kami. Pak Marudut Marpaung dan Pak Saur Tampubolon mengatakan kami semua harus ke wisma terlebih dahulu untuk memudahkan pendataan dan untuk menikmati makan malam yang sudah disiapkan oleh panitia. Seusai makan saya dan teman saya dari Makassar pulang bersama – sama karena kebetulan kami searah dan selesailah kegiatan Indonesia Singapore Student Leaders`s Adventure Camp yang kedua di tahun 2008 ini.
Kesan – Kesan
Kegiatan ini sangat bagus karena dapat meningkatkan rasa kepemimpinan siswa dan dapat menjalin hubungan yang harmonis antara dua negara dalam konteks ini adalah Indonesia dan Singapura.
Beberapa hal yang saya pelajari dari Singapura ini adalah pentingnya transportasi dan infrastruktur jalan yang memadai, sebab dengan transportasi yang baik dan ditunjang dengan infrastruktur jalan yang baik, kita bisa mengefisienkan penggunaan bahan bakar minyak dan tentunya mengefisienkan waktu, dengan begitu kemacetan, polusi udara, dan pemborosan minyak melalui kemacetan dapat dikurangi. Semakin baik transportasi dan Infrastuktur jalan suatu negara, semakin baik pula perekonomian dan semakin efisien pula penggunaan bahan bakar sehingga pemerintah tidak perlu menghambur – hamburkan uang untuk mensubsidi BBM yang pada akhirnya terbakar sia – sia dalam kemacetan yang kerap kali terjadi di kota besar seperti Jakarta. Satu lagi hal yang saya perhatikan adalah pentingnya trotoar bagi pejalan kaki.
Negara Singapura merupakan negara yang bersih, dan inilah yang akan saya coba terapkan di lingkungan sekolah saya setidaknya di lingkungan sekitar kelas saya.
Siswa Singapura sangat disiplin, menjunjung tinggi perbedaan, mempunyai jiwa apresiasi yang tinggi, jiwa humaniora yang tinggi dan berani mengambil keputusan dan tidak segan – segan untuk ditunjuk menjadi pemimpin. Semua itulah yang sepantasnya ditiru oleh Siswa Indonesia dan saya akan mencoba untuk mensosialisasikannya di lingkungan sekolah saya untuk menciptakan siswa yang disiplin dan mempunyai jiwa apresiasi yang tinggi.
Di semua sekolah di Singapura sebelum masuk sekolah mereka memutarkan lagu kebangsaannya Forward Singapura dengan tujuan untuk meningkatkan rasa cinta tanah air dan meningkatkan jiwa Patriotisme siswa. Mungkin ini bisa diterapkan di semua sekolah di seluruh Indonesia untuk meningkatkan rasa cinta tanah air dan jiwa Patriotisme siswa.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar